Cerbung I : Separuh Hati untuk Prasangka

( Gambar : https://www.hipwee.com)


Setengah Hati untuk Prasangka
Oleh : Granita Nilam

     H-5, masih terbilang jauh untuk kategori puisi singkat bertema bebas. Hal yang mudah bagi seorang puitis. Tak bisa sembarangan! Ini adalah event yang telah dinanti-nantikan oleh hampir seluruh penjuru nusantara, mungkin itu yang ada di pikiran Rana, puitis kecil dari ujung Kabupaten Kediri.

     Pranata Gelanggang Normala. Nama yang cukup unik untuk gadis bermata sayu itu. Mungkin juga sama dengan karakternya yang tidak pernah meremehkan hal-hal kecil sedikitpun, unik untuk zaman globalisasi; modern; saat ini. Bayangkan saja, dari berbulan-bulan yang lalu dia telah menyiapkan banyak sekali naskah puisi bebas untuk dipilihnya menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Step-by-step dilakukannya dengan runtut dan teliti, hingga menyingkirkan hasil secarik jerih payahnya satu-per-satu untuk disimpan dan diabadikan dalam nota kesayangannya. Disimpan bukan berarti mereka tidak berguna, lihatlah disudut ruangan berlatar belakang putih dan merah muda itu, ada satu almari berbentuk kotak yang besar! lihat? Disana ada banyak sekali map-map berkas. Hampir keseluruhannya  adalah carik-carik kertas yang telah disimpan Rana. Bagi Rana, satu kalimat dari pena yang telah dikeluarkannya untuk secarik kertas adalah barang yang berharga.

Rana menghela napas berat.

  Hari ini keputusan terakhir antara puisi Yomungswara dan Tirtawangi, calon dari hasil pemikirannya untuk lomba lima hari kedepan. Dua kertas itu masih ditimbang-timbang diantara kedua tangannya. Satu detik yang lalu matanya melirik ke arah kanan dan baru saja bola itu tergeser kembali, korneanya jatuh pada Tirtawangi yang berada ditangan kiri.

  Sesungguhnya, mereka sudah sangat mendominasi hati dan pikiran gadis berkhimar panjang itu, tidak bisa dipungkiri ini adalah pilihan yang berat baginya.

     “Cantik itu yang harumnya tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah terkalahkan, mengalir terus seperti sungai yang memiliki sumber keabadian. Dalam definisi cantik, sumber keabadian adalah amal, nduk.”

     Kata-kata itu seolah mendengung kembali pada telinga Rana. Napasnya berat sebentar, hampir tercekik!

Jangan hanya suara saja yang kamu teriakan, nduk, tapi, perjuanganmu juga. Semua orang itu mampu berteriak, membela diri agar mereka terlihat baik, itu manusiawi, tapi, hanya orang-orang berluhur manusia yang mau berjuang sampai titik darah penghabisan.”

     La-gi!

     Kata-kataajaib yang menjadi sumber inspirasi puisi Yomungswara dan Tirtawangi.

     Masih teringat sekali dibenak Rana, bagaimana Ibu begitu –garis-keras- terhadap tata krama, kesopanan, tindak tanduk wanita Jawa dan keshalihahan yang patut dijaga sampai kapanpun dan dimanapun. 

     Mata Rana kini berkaca-kaca dengan pelan, katup bawah hampir jebol karena bulir kian membengkak, bayang-bayang wanita setengah abad yang telah merawatnya itu kini ada di benaknya. Tentang kelembutannya, sikap ramah-tamahnya, dan ...

      Ke-sa-ba-ran-nya,

“Welas asih ingkang katah dhamel Ibu,” bisik Rana pelan sembari menghembuskan napas hangat.

Bersambung....

Komentar