Postingan

Cerbung II- Separuh Hati untuk Prasangka

Gambar
(Picture by Oktavia E.A) Separuh Hati untuk Prasangka II Oleh : Granita Nilam        Mata itu masih terfokus didepan sana, nuraninya menendang-nendang sanubari, mengolok-olok diri sendiri. Pikirannyapun enggan untuk menerima keputusan jika lima menit lalu adalah jernih;baik;lurus.       Sesak-menyesak-mendesak. Ingin sekali suaranya berteriak bahkan kerongkongan haus untuk mendengung, tapi...      Tubuh kecil itu berdiri pelan, menyusuri keramik coklat yang dinginnya kian menyerang. Jatuh perlahan layar titik hitam Rana hingga menangkap keriput wanita yang disayanginya itu. Bulir-bulir keringat, luluh lantah didepan sana.       Tangan yang penuh garis keriput itupun seolah enggan menerima cucian yang basah disana.      Rana menghela napas dalam, kelopak matanya turun drastis hingga bola matanya sedikitpun tak terlihat.       Beberapa hari...

Puisi- Semangat untuk Para Difabel

Gambar
(Pict by Oktavia)  Semangat untuk Para Difabel  Oleh : Apri Kuncoro  Meski kita dilahirkan dalam dekapan keterbatasan  Namun jangan sampai itu semua menjadi sebuah hambatan  Saatnya bangkit membuktikan  Di tengah hiruk pikuk dan liku kehidupan  Bahwa kita juga memiliki segudang kelebihan  Kelebihan yang mampu menjadi penutup lemahnya kekurangan  Kelebihan sebagai sebuah tanda kasih sayang  Dari Sang Maha Penyayang  Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghancur semangat  Jadikanlah sebagai pembakar yang membara  Tunjukkan segala potensi yang ada Luapkan dan ungkapkan segala emosi jiwa Melalui sebuah prestasi dan karya Jangan pedulikan hinaan dan cemoohan  Jadikan itu sebagai sebuah cambukan  Untuk semakin banyak mengukir sebuah kesuksesan  Gombong, 31 Maret 2019

Cerbung I : Separuh Hati untuk Prasangka

Gambar
( Gambar : https://www.hipwee.com) Setengah Hati untuk Prasangka Oleh : Granita Nilam      H-5, masih terbilang jauh untuk kategori puisi singkat bertema bebas. Hal yang mudah bagi seorang puitis. Tak bisa sembarangan! Ini adalah event yang telah dinanti-nantikan oleh hampir seluruh penjuru nusantara,  mungkin itu yang ada di pikiran Rana, puitis kecil dari ujung Kabupaten Kediri.      Pranata Gelanggang Normala. Nama yang cukup unik untuk gadis bermata sayu itu. Mungkin juga sama dengan karakternya yang tidak pernah meremehkan hal-hal kecil sedikitpun, unik untuk zaman globalisasi; modern; saat ini. Bayangkan saja, dari berbulan-bulan yang lalu dia telah menyiapkan banyak sekali naskah puisi bebas untuk dipilihnya menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Step-by-step dilakukannya dengan runtut dan teliti, hingga menyingkirkan hasil secarik jerih payahnya satu-per-satu untuk disimpan dan diabadikan dalam nota kesayangannya. Disimpan bu...