Cerbung II- Separuh Hati untuk Prasangka
(Picture by Oktavia E.A)
Separuh Hati untuk Prasangka II
Oleh : Granita Nilam
Mata itu masih terfokus didepan sana, nuraninya menendang-nendang sanubari, mengolok-olok diri sendiri. Pikirannyapun enggan untuk menerima keputusan jika lima menit lalu adalah jernih;baik;lurus.
Sesak-menyesak-mendesak. Ingin sekali suaranya berteriak bahkan kerongkongan haus untuk mendengung, tapi...
Tubuh kecil itu berdiri pelan, menyusuri keramik coklat yang dinginnya kian menyerang. Jatuh perlahan layar titik hitam Rana hingga menangkap keriput wanita yang disayanginya itu. Bulir-bulir keringat, luluh lantah didepan sana.
Tangan yang penuh garis keriput itupun seolah enggan menerima cucian yang basah disana.
Rana menghela napas dalam, kelopak matanya turun drastis hingga bola matanya sedikitpun tak terlihat.
Beberapa hari lalu, bibirnya tanpa berdosa mendengungkan kata tanpa sepintas mengerti.
"Bu, lusa harus bayar SPP, lihatlah, sepatuku jebol, tidak enak sekali rasanya."
Air matanya pelan tapi pasti mengalir.
Kemarin, "Bu, uangnya ada 'kan? Teman-temanku sudah membayar SPP mereka lunas."
Lima menit lalu, "Bu,..."
"Durjana kau!" Pintasnya dalam hati.
Dua detik berlalu dan tangannya kian kuat untuk menggenggam. Setelahnya, ia pergunakan untuk membasuh air matanya.
"Ini tidak adil." Baginya.
Benaknya berfirasat, jika Ibu bisa melakukannya kenapa dia tidak.
Adakah sepenuh hati untuk prasangka?
Itu tidak mungkin.
Rana menghela napas dan segera membusungkan dadanya cepat. Seolah pertanda, 'maaf'.

Komentar
Posting Komentar